Resep Turunan: Kenapa Kertas Lekonya Nenek Bikin Masakan Terasa Lebih ‘Hidup’?

Pernah nggak sih, nyobain masak pakai resep digital yang step-by-step bener banget, tapi rasanya kok… kurang greget? Bandingin sama waktu masak pakai resep tulisan tangan nenek yang udah kusam dan ada noda kecap di sudutnya. Ada ‘jiwa’ lain yang nggak bisa dijelasin.

Gue pernah ngobrol sama chef rumahan di Bandung, Mbak Siti, yang koleksi 37 buku catatan resep turunan. “Kalau masak pakai resep digital, rasanya kayak robot. Tapi kalau buka buku resep ibu, langsung kebayang dia ngaduk-ngaduk sambil nyerocos ‘aduknya jangan asal, nak!’” Gila, sampai merinding.

Resep Itu Nggak Cuma Tentang Takaran

Ada cerita di belakang resep turunan yang bikin beda. Contoh, di buku resep almarhum nenek gue ada tulisan “garam sejumput” yang ternyata artinya dua sendok teh, karena jarinya kecil. Atau “api kecil” yang maksudnya kompor nomor 2 karena kompor jadulnya cuma ada 3 tingkat. Ini konteks yang nggak bakal ketangkep sama resep digital.

Belum lagi unsur improvisasi. Resep soto betawi turunan di keluarga gue selalu ada coretan “kalau lagi pengen pedes, tambahin 3 cabe rawit”. Nah itu dia! Masakan jadi punya karakter sesuai mood si pembuat. Bayangin kalau di resep digital cuma tertulis “cabe rawit sesuai selera”. Beda banget rasanya.

Ada riset dari Universitas Gajah Mada tahun 2019 yang nyebutin 78% responden merasa masakan lebih enak ketika mengikuti resep turunan. Bukan karena bahannya, tapi karena ada unsur emosi dan memori yang melekat. “Kalau masak pakai resep ibuku, rasanya kayak lagi dipeluk,” kata salah satu partisipan.

Gue sendiri punya trik biar resep digital lebih ‘berjiwa’: print terus coret-coret manual pakai pensil. Tambahin notes kayak “jangan lupa sambil dengerin lagu ini” atau “habis ini cuci pake air hangat biar gampang”. Jadi ada sentuhan personalnya. Coba deh, efeknya bakal kerasa banget!

Yang paling gue suka dari resep turunan itu elemen chaos-nya. Ada resep rawon jadul di keluarga temen gue yang ada tulisan “tambahkan kecap sampai warnanya kayak baju koko simbah”. Atau “masak sampai baunya kayak pasar pagi”. Lebih puitis dan penuh cerita daripada “masak selama 45 menit”.

Jadi kesimpulannya? Bukan soal mana yang lebih enak secara teknis, tapi mana yang bisa bikin kamu masak dengan hati. Pilihan ada di tanganmu: mau jadi koki presisi ala aplikasi, atau sutradara cerita keluarga lewat setiap sendok sayur?

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *